JawaPos.com – Generasi kelahiran 1997-2012, atau yang akrab disebut Gen Z, belakangan banyak dikenal sebagai generasi yang lebih sadar kesehatan. Hal ini terlihat dari perubahan gaya hidup yang menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Mulai dari aktivitas olahraga, makanan sehat, hingga tren hidup tanpa alkohol.
Banyak survey telah membuktikan bahwa Gen Z menunjukkan perkembangan positif dalam hal kebiasaan konsumsi alkohol. Salah satu yang banyak dibahas adalah survei dari Gallup yang mencatat jumlah peminum dari kalangan anak muda dibawah umur 35 tahun di AS turun 10%. Begitupun hasil survei dari WHO yang menunjukkan bahwa jumlah kematian per 100.00 orang akibat alkohol menurun 20,2%.
Penurunan angka ini menjadi wujud terjadinya pergeseran makna dan gaya hidup dari generasi sebelumnya ke Gen Z. Pada salah satu artikel majalah TIME, Sybil Marsh, Dokter Spesialis Keluarga dan Gangguan Kecanduan, berpendapat bahwa ada masanya minum alkohol menjadi simbol kedewasaan yang eksklusivitas. Tapi kini, minum alkohol hanya salah satu dari sekian banyak cara untuk merayakan kedewasaan, gaya hidup, dan sebagainya.
Tren “Sober Curious”, salah satu pendorong penurunan konsumsi alkohol Gen Z
Dalam artikel yang sama, George F. Koob dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcohol menyebutkan bahwa tidak ada satu alasan khusus Gen Z mengurangi, melainkan banyak alasan sekaligus. Selain karena kesadaran akan kesehatan, tren “sober curious” juga menjadi pendorong penurunan tersebut, khususnya di negara Barat.
Istilah sober curious pertama kali muncul dari buku Ruby Warrington yang kemudian populer di kalangan anak muda melalui media sosial. Tren ini membahas kebiasaan minum alkohol yang pada awalnya menjadi simbol perayaan atau digunakan sebagai pelarian dari stress. Menjadi sober curious berarti anak muda harus lebih “mindful” terhadap kebiasaan minum.
Dibanding menjadikannya sebagai kebiasaan atau pencapaian, anak muda diajak untuk membangun hidup yang lebih sehat, terhindar dari resiko konsumsi alkohol. Sober curious bisa membawa berbagai dampak positif, utamanya dapat dirasakan pada kesehatan fisik dan mental. Dimulai dari ikut tren sober curious, anak muda bahkan bisa menumbuhkan kegiatan positif baru sebagai pengganti.
Kemunculan Mocktail hingga Party Jamu sebagai gantinya
Dari tren mengurangi konsumsi alkohol, muncul minuman hingga aktivitas baru sebagai gantinya, seperti mocktail dan party jamu di Indonesia. Penyebutan minuman mocktail sendiri memang tercipta pertama kali saat terjadi pelarangan alkohol di Amerika Serikat sekitar tahun 1920. Ini merupakan sebutan untuk minuman non-alkohol yang dibuat seperti cocktail.
Mocktail kini memiliki penggemarnya sendiri. Minuman tanpa alkohol yang diracik dari campuran buah, sirup, dan soda menjadi tren di kalangan anak muda yang mulai menghindari konsumsi alkohol. Di Indonesia sendiri, mocktail bahkan menjadi ide usaha UMKM dan diperjual belikan tidak hanya di bar, tapi juga di warung-warung kecil.
Alih-alih mocktail, jamu justru menjadi pengganti tren alkohol di kalangan Gen Z. Sepanjang 2025 “party jamu” menjadi salah satu fenomena yang viral di media sosial. Tidak hanya di kalangan anak muda di daerah yang masih dekat dengan kuliner tradisional, tren ini juga diikuti oleh masyarakat urban di Jakarta.
Party jamu dijadikan tren yang menggantikan clubbing, atau pesta alkohol di club malam. Beberapa postingan terkait party jamu, mengabadikan momen anak muda yang berbondong-bondong minum jamu dari penjual jamu tradisional. Tren ini juga menjadi awal kenaikkan jamu tradisional, bahkan kemunculan penjual jamu dari kalangan Gen Z.
Secara keseluruhan, bukan berarti Gen Z berhenti mengikuti gaya hidup modern. Mereka, yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan, justru memilih untuk lebih selektif membangun lifestyle. Dari sebuah kesadaran, Gen Z menjadikannya tren yang bisa dicontoh banyak orang, melekat sebagai gaya hidup, hingga terbit ide usaha yang menghasilkan.
Editor : Bintang Pradewo