JawaPos.com - Di tengah menjamurnya bioskop modern di dalam pusat perbelanjaan, Metropole XXI masih berdiri dengan caranya sendiri. Berlokasi di kawasan Cikini, bioskop ini bukan cuma tempat menonton film, tapi juga salah satu saksi perjalanan panjang hiburan di Jakarta. Tidak banyak yang sadar kalau Metropole merupakan salah satu bioskop tertua yang masih beroperasi di ibu kota, dengan sejarah yang sudah dimulai sejak 1932.
Sebelum dikenal dengan nama Metropole, tempat ini awalnya bernama Megaria. Pada masa Hindia Belanda, kawasan Cikini memang dikenal sebagai area elite Batavia yang dipenuhi pusat hiburan dan ruang berkumpul masyarakat kelas atas. Kehadiran bioskop Megaria saat itu menjadi simbol modernitas kota, terutama ketika budaya menonton film mulai berkembang di kalangan masyarakat urban.
Dari luar, bangunan Metropole masih mempertahankan nuansa arsitektur art deco yang khas. Bentuk fasadnya terlihat berbeda dibanding bioskop modern masa kini yang umumnya tersembunyi di dalam mal. Garis lengkung bangunan, area depan yang luas, sampai detail-detail lawas di beberapa sudut membuat tempat ini masih terasa memiliki identitas tersendiri. Tidak heran kalau banyak orang datang ke Metropole bukan hanya untuk menonton film, tapi juga menikmati atmosfer vintage khas Jakarta lama.
Salah satu hal unik yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah keberadaan poster-poster film lawas yang dipajang di beberapa area bioskop. Detail kecil ini justru membuat ambience Metropole terasa berbeda. Di tengah dominasi layar digital dan desain bioskop yang seragam, poster film lama tersebut memberi kesan nostalgia sekaligus memperkuat identitas historis tempat ini. Bagi sebagian pengunjung, suasana seperti ini justru jadi daya tarik yang sulit ditemukan di bioskop lain.
Selain sejarahnya yang panjang, Metropole juga punya cukup banyak cerita menarik. Pada masanya, Megaria dikenal sebagai salah satu bioskop paling bergengsi di Jakarta. Bahkan kawasan di sekitarnya sempat menjadi pusat hiburan populer sebelum era mal modern berkembang seperti sekarang. Seiring waktu, bioskop ini beberapa kali mengalami renovasi dan akhirnya bergabung dengan jaringan XXI, tetapi karakter bangunan utamanya tetap dipertahankan.
Kini Metropole juga berkembang menjadi lebih dari sekadar bioskop. Area di sekitarnya dipenuhi restoran, coffee shop, sampai tempat nongkrong yang ramai terutama pada malam hari. Perpaduan antara bangunan bersejarah dengan gaya hidup urban modern membuat tempat ini terasa unik. Ada nuansa Jakarta lama yang masih tersisa, tapi tetap hidup mengikuti perkembangan zaman.
Di tengah cepatnya perubahan wajah kota Jakarta, keberadaan Metropole terasa seperti pengingat kecil bahwa tidak semua hal lama harus hilang. Ketika banyak bangunan bersejarah perlahan tergantikan gedung baru, Metropole justru tetap bertahan sambil membawa cerita panjang tentang bagaimana warga Jakarta menikmati hiburan dari masa ke masa.
Buat sebagian orang, datang ke Metropole mungkin hanya untuk menonton film. Tapi buat yang lain, tempat ini juga menawarkan pengalaman menikmati sepotong sejarah Jakarta yang masih hidup sampai hari ini.
Editor : Bintang Pradewo