Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Kopitiam Lagi Menjamur di Kota-Kota Besar, Begini Penjelasannya 

Muhammad Irfan Hidayat • Selasa, 26 Mei 2026 | 15:59 WIB
Belakangan ini, istilah “kopitiam” makin sering terdengar di berbagai kota besar Indonesia. Konsep tempat makan satu ini makin menjamur dan selalu ramai pengunjung. (getty image)
Belakangan ini, istilah “kopitiam” makin sering terdengar di berbagai kota besar Indonesia. Konsep tempat makan satu ini makin menjamur dan selalu ramai pengunjung. (getty image)

JawaPos.com - Belakangan ini, istilah “kopitiam” makin sering terdengar di berbagai kota besar Indonesia. Konsep tempat makan satu ini makin menjamur dan selalu ramai pengunjung. Tidak sedikit anak muda yang sengaja datang hanya untuk menikmati kopi panas, roti bakar, sampai suasana jadul yang terasa hangat dan akrab.

Meski kini terlihat modern dan estetik, ternyata kopitiam punya sejarah panjang yang erat dengan budaya Asia Tenggara. Kopitiam bukan sekadar tempat ngopi biasa, melainkan bagian dari warisan budaya yang sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Secara bahasa, kata “kopitiam” berasal dari gabungan dua kata, yaitu “kopi” dari bahasa Melayu dan “tiam” dari dialek Hokkian yang berarti toko atau kedai. Jadi, secara sederhana, kopitiam bisa diartikan sebagai kedai kopi. Nama ini menjadi simbol percampuran budaya Melayu dan Tionghoa yang berkembang di Asia Tenggara, khususnya di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Sejarah kopitiam sendiri berawal dari kedatangan komunitas Tionghoa ke kawasan Asia Tenggara pada masa kolonial. Banyak perantau Tionghoa yang kemudian membuka kedai kopi sederhana untuk para pekerja dan masyarakat sekitar. Dari sinilah budaya nongkrong sambil minum kopi perlahan tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Menariknya, budaya kopitiam berkembang dengan cara berbeda di tiap negara. Di Malaysia dan Singapura, kopitiam identik dengan kedai besar yang biasanya juga diisi berbagai penjual makanan. Sementara di Indonesia, terutama di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau, kopitiam lebih dikenal sebagai warung kopi sederhana yang dikelola turun-temurun oleh keluarga Tionghoa lokal.

Kalau masuk ke dalam kopitiam, suasananya juga terasa berbeda dibanding coffee shop modern. Interiornya biasanya sederhana, ada meja kayu, kursi klasik, aroma kopi yang kuat, dan suara obrolan pelanggan yang ramai. Justru suasana inilah yang bikin banyak orang merasa nyaman dan betah berlama-lama.

Selain suasana, menu di kopitiam juga punya ciri khas tersendiri. Salah satu yang paling terkenal tentu kopi susu khas kopitiam yang diseduh menggunakan saringan kain. Rasanya cenderung kuat, creamy, dan manis karena sering dipadukan dengan susu kental manis.

Tidak hanya kopi, menu makanan di kopitiam juga terkenal sederhana tapi bikin nagih. Ada roti bakar selai srikaya, telur setengah matang, mie, nasi lemak, sampai aneka camilan tradisional. Kombinasi menu sederhana dengan cita rasa khas inilah yang membuat banyak orang rela antre demi sarapan atau nongkrong di kopitiam favorit mereka.

Lalu, apa bedanya kopitiam dengan coffee shop kekinian? Perbedaan paling terasa ada pada konsep dan suasananya. Coffee shop modern biasanya lebih fokus pada kopi specialty, desain estetik, dan suasana kerja atau meeting. Sementara kopitiam lebih menonjolkan nuansa tradisional, menu rumahan, dan suasana santai untuk ngobrol panjang bersama teman atau keluarga.

Dari sisi minuman pun berbeda. Di coffee shop modern, kopi biasanya dibuat menggunakan mesin espresso dengan banyak varian latte atau manual brew. Sedangkan di kopitiam, teknik penyeduhannya masih cenderung tradisional dan mempertahankan resep lama yang diwariskan turun-temurun.

Menariknya lagi, sekarang banyak kopitiam modern yang mulai menggabungkan konsep lama dengan gaya kekinian. Jadi meski tetap mempertahankan menu klasik dan nuansa nostalgia, desain tempatnya dibuat lebih nyaman dan cocok untuk anak muda. Tidak heran kalau kini kopitiam sering jadi tempat nongkrong favorit generasi muda sampai konten kreator.

Fenomena menjamurnya kopitiam juga menunjukkan kalau banyak orang mulai mencari tempat makan yang terasa lebih hangat dan dekat dengan budaya lokal. Di tengah maraknya cafe modern dengan konsep minimalis, kopitiam justru hadir membawa rasa nostalgia dan kesederhanaan yang bikin orang nyaman.

Buat sebagian orang, datang ke kopitiam bukan cuma soal minum kopi. Ada pengalaman menikmati suasana santai, mendengar suara obrolan ramai, mencium aroma roti bakar, sampai merasakan vibes tempo dulu yang sulit ditemukan di tempat lain. Itulah kenapa kopitiam punya daya tarik yang berbeda dibanding tempat nongkrong biasa.

Kalau selama ini kamu cuma menganggap kopitiam sebagai tempat ngopi biasa, ternyata di balik secangkir kopi dan roti bakarnya ada sejarah panjang tentang budaya, percampuran tradisi, dan kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Tidak heran kalau sampai sekarang kopitiam tetap bertahan dan bahkan makin populer di kalangan anak muda.

Kalau penasaran dengan suasana autentiknya, mungkin ini saat yang tepat buat mulai mampir ke kopitiam terdekat. Siapa tahu, dari tempat sederhana itu kamu justru menemukan pengalaman nongkrong yang lebih hangat, santai, dan penuh cerita.

Editor : Bintang Pradewo
#kopitiam