Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Pelabuhan Sunda Kelapa: Wisata Sejarah Jakarta dengan Deretan Kapal Phinisi Ikonik

Muhammad Irfan Hidayat • Jumat, 29 Mei 2026 | 17:15 WIB
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan tanggul beton di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan tanggul beton di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kalau biasanya Jakarta identik dengan gedung pencakar langit, jalanan padat, dan pusat perbelanjaan modern, ternyata ibu kota masih punya sudut yang terasa seperti membawa pengunjung kembali ke masa ratusan tahun lalu. Di kawasan Jakarta Utara, berdiri Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan tua yang sampai sekarang masih aktif sekaligus menjadi salah satu saksi paling penting perjalanan sejarah Jakarta.

Begitu masuk ke area pelabuhan, suasananya langsung terasa berbeda. Deretan kapal phinisi kayu berukuran besar bersandar di tepi dermaga, suara aktivitas bongkar muat terdengar dari berbagai arah, sementara aroma laut bercampur angin pantai membuat tempat ini punya atmosfer khas yang sulit ditemukan di tempat lain di Jakarta. Tidak sedikit orang yang datang ke sini merasa seperti sedang melihat potongan Jakarta tempo dulu yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.

Pelabuhan Sunda Kelapa bukan sekadar tempat kapal berlabuh. Kawasan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Sunda dan pernah menjadi pusat perdagangan penting di Nusantara. Ratusan tahun lalu, pelabuhan ini ramai didatangi pedagang dari berbagai negara seperti Tiongkok, India, Arab, hingga Eropa untuk mencari rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Dari tempat inilah sejarah panjang Jakarta dimulai.

Nama Sunda Kelapa sendiri sangat lekat dengan awal mula lahirnya ibu kota. Pada tahun 1527, pelabuhan ini berhasil direbut oleh Fatahillah dan kemudian namanya diubah menjadi Jayakarta. Seiring waktu berjalan, Jayakarta berkembang menjadi Batavia pada masa kolonial Belanda hingga akhirnya dikenal sebagai Jakarta seperti sekarang. Karena itu, banyak orang menyebut Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai salah satu titik paling bersejarah di ibu kota.

Hal menarik dari tempat ini adalah aktivitas pelabuhannya yang masih berjalan hingga sekarang. Kapal-kapal kayu tradisional masih digunakan untuk mengangkut berbagai barang menuju daerah-daerah di Indonesia, terutama kawasan Indonesia Timur. Di tengah era kapal modern dan kontainer besar, keberadaan kapal pinisi di Sunda Kelapa justru menjadi pemandangan unik yang membuat banyak wisatawan penasaran.

Kapal phinisi sendiri menjadi daya tarik utama di kawasan ini. Bentuknya yang besar dengan dominasi material kayu membuat tampilannya terlihat klasik sekaligus megah. Kapal khas Sulawesi Selatan tersebut sudah digunakan masyarakat Bugis sejak ratusan tahun lalu untuk berlayar antarpulau. Bahkan, kapal pinisi juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia karena nilai sejarah dan budaya maritimnya yang sangat kuat.

Banyak pengunjung sengaja datang hanya untuk melihat deretan kapal pinisi dari dekat. Tidak sedikit juga yang memanfaatkan area pelabuhan sebagai spot foto estetik karena suasananya sangat ikonik. Warna-warni kapal, tali tambang besar, hingga aktivitas para pekerja pelabuhan membuat setiap sudut di Sunda Kelapa terasa menarik untuk diabadikan lewat kamera.

Menjelang sore hari, suasana di pelabuhan biasanya semakin ramai. Cahaya matahari saat golden hour membuat kapal-kapal kayu terlihat semakin dramatis. Banyak anak muda, fotografer, hingga wisatawan luar kota datang untuk menikmati sunset sambil duduk santai di sekitar dermaga. Nuansa klasik yang dimiliki tempat ini membuat hasil foto terlihat seperti berada di luar negeri atau di masa lampau.

Selain berjalan di area pelabuhan, pengunjung juga bisa mencoba naik perahu kecil untuk mengelilingi kawasan sekitar. Dari atas perahu, pemandangan kapal pinisi terlihat lebih megah dan memberikan pengalaman berbeda. Aktivitas ini cukup populer karena wisatawan bisa melihat langsung kehidupan para pekerja pelabuhan dari dekat.

Menariknya lagi, Pelabuhan Sunda Kelapa berada tidak jauh dari kawasan Kota Tua Jakarta. Karena lokasinya berdekatan, banyak wisatawan memilih mengunjungi kedua tempat tersebut sekaligus dalam satu hari. Setelah menikmati suasana kolonial di Kota Tua, perjalanan bisa dilanjutkan ke Sunda Kelapa untuk melihat sisi maritim Jakarta yang penuh sejarah.

Meski dikenal sebagai wisata sejarah, suasana di Pelabuhan Sunda Kelapa sama sekali tidak terasa membosankan. Justru tempat ini punya daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman berbeda dibanding wisata modern pada umumnya. Di tengah ramainya pusat hiburan dan mall di Jakarta, Sunda Kelapa hadir sebagai tempat untuk melihat bagaimana kehidupan pelabuhan tradisional masih bertahan sampai sekarang.

Biaya wisata ke sini juga relatif terjangkau. Pengunjung biasanya hanya perlu membayar biaya masuk kawasan atau parkir kendaraan. Karena itu, Pelabuhan Sunda Kelapa sering menjadi pilihan wisata murah di Jakarta yang tetap punya pengalaman menarik dan penuh cerita sejarah.

Namun karena kawasan ini masih merupakan pelabuhan aktif, pengunjung tetap perlu berhati-hati saat berjalan di area dermaga. Disarankan menggunakan alas kaki yang nyaman dan datang saat cuaca tidak terlalu panas agar pengalaman wisata terasa lebih menyenangkan.

Pelabuhan Sunda Kelapa bukan hanya tempat melihat kapal kayu atau berburu foto estetik semata. Tempat ini adalah pengingat bahwa Jakarta dulunya merupakan kota pelabuhan besar yang menjadi pusat perdagangan penting di Nusantara. 

Kalau sedang mencari tempat wisata di Jakarta yang punya nuansa berbeda, Pelabuhan Sunda Kelapa bisa jadi pilihan menarik untuk dikunjungi. Tidak hanya menawarkan pemandangan kapal pinisi yang ikonik, tempat ini juga menyimpan cerita panjang tentang perjalanan sejarah Jakarta yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Editor : Bintang Pradewo
#pelabuhan sunda kelapa #wisata sejarah jakarta #kapal phinisi