Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Wamen Dikdasmen dan Kepala BSKAP Kunjungi CH School Bali, Bukti Transformasi Pendidikan Muncul dari Kelas, Bukan Menunggu Regulasi

Hilmi Setiawan • Rabu, 29 Oktober 2025 | 14:10 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, bersama KepalaBSKAP, Prof. Dr. Toni Toharudin, mengunjungi Sekolah Cendekia Harapan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, bersama KepalaBSKAP, Prof. Dr. Toni Toharudin, mengunjungi Sekolah Cendekia Harapan.

JawaPos.com — Ketika banyak sekolah masih menafsirkan pedoman baru kecerdasan buatan (AI), Sekolah Cendekia Harapan (CH School) di Badung, Bali, telah menempuh langkah lebih jauh: mempraktikkan human–AI collaboration sebagai filosofi belajar.

Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., bersama Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc., pada Rabu (29/10), menegaskan reputasi CH School sebagai pelopor yang menghidupkan kurikulum di ruang kelas, bukan sekadar menunggu perubahan regulasi.

Di hadapan para pejabat, siswa-siswi CH menunjukkan bagaimana AI diposisikan sebagai rekan berpikir: mereka bertanya, berdebat, dan menguji hasilnya, sebelum menyusun simpulan dengan nalar sendiri.

“AI bukan musuh kreativitas. Musuh kreativitas adalah rasa takut berpikir buat kami di CH,” ujar siswa kelas 7. Pernyataan itu tampak kongkrit saat siswa kelas 7 mempresentasikan rancangan sistem pengelolaan sampah desa berbantuan AI. Ketika ditanya siapa yang menulis kode dan siapa yang melahirkan ide, ia menjawab singkat: “AI membantu saya menulis kode, tetapi ide dan keputusan tetap saya yang ambil," ujarnya.

Jawaban ini menggambarkan pandangan CH School: teknologi memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Sejak 2022, CH School membuka penggunaan AI dalam pembelajaran di bawah panduan etis dan pengawasan guru. Setiap proyek wajib dilengkapi Human–AI Collaboration Statement yang merinci porsi bantuan AI dan porsi nalar siswa, termasuk tautan riwayat percakapan dengan AI tools agar alur berpikir dapat dinilai secara transparan. Praktik ini, di mata banyak pengamat adalah game changer yang menanamkan integritas akademik digital sejak dini.

“Transparansi digital adalah bentuk baru dari kejujuran,” kata Ady Ekayana Putra, pengajar Computer Science di CH School. “Kami ingin anak-anak tumbuh bukan hanya pintar, tetapi juga sadar etika di dunia yang kian otomatis," ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Atip dan Prof. Toni menyaksikan bagaimana inovasi berjalan berdampingan dengan refleksi kebijakan. Proyek lintas disiplin: sains bersua seni, matematika berdialog dengan etika, teknologi menyatu dengan nilai spiritual yang ditumbuhkan melalui program CH: Maker Hours, Live In, dan Workplace Exposure Program. Para siswa diajak memetakan persoalan nyata di lingkungan, melakukan riset berbantuan AI, lalu merancang solusi yang relevan dan berkelanjutan.

“Terlihat di sini menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus menunggu regulasi untuk menjadi relevan,” ujar Prof. Atip dalam percakapan dengan para guru.

Transformasi kurikulum CH School bertolak dari kebutuhan industri masa depan di era VUCA. Literasi tidak lagi berhenti pada membaca–menulis–berhitung, melainkan ditransformasikan menjadi human literacy, technology literacy, dan data literacy. Ekosistem ini disangga oleh tiga pilar: kurikulum sebagai arah, guru sebagai penggerak, dan tim struktural sebagai backbone. Integrasi STEM, coding, dan AI mengalir di seluruh mata pelajaran lewat storytelling, role play, problem-based learning, studi kasus, dan eksperimen; teknologi dihadirkan untuk memperkaya kemampuan berbahasa, berlogika, dan berempati, bukan menenggelamkannya.
Di ranah keluarga–komunitas, PALS (Parent As Learners), panduan orang tua, dan orientasi berkelanjutan tiap semester memastikan keselarasan nilai.

Infrastrukturnya didukung Learning Management System serta Super App internal MyCH untuk kolaborasi guru–siswa dan pelacakan asesmen berbasis kolaborasi manusia–AI.

Dampak perubahan tercermin di semua jenjang: TK menguatkan logika konkret sesuai tahap perkembangan Piaget; SD menulis algoritma, membuat animasi, dan merancang gim sederhana; SMP–SMA terekspos advanced programming, Python, pengembangan situs, data science, machine learning, hingga complex systems, serta mengikuti program magang. Di jenjang menengah, sebagian karya bahkan telah terbit dalam bentuk HAKI, buku, dan artikel.

“Kuncinya bukan alatnya, melainkan proses berpikir/ observasi, analisis, root-cause analysis, inferensi, metodologi, dan justifikasi,” ujar Sheena Abigail, B.Sc. (Hons), M.Sc., Vice Principal CH. “AI kami letakkan sebagai alat pasif yang harus diinstruksikan; subjeknya tetap manusia," ujarnya.

Dalam wawancara singkat, tiga arsitek ekosistem CH merangkum kompas kebijakan sekolah. Ir. Timothy Dillan, B.Sc. (Hons), M.Kom., Chief of Data & AI, menekankan disiplin integrasi yang terukur: “Kami memastikan AI hadir dengan kadar yang tepat melalui Guideline Human–AI Collaboration yang menempel pada siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act). Target kami jelas: melahirkan Agentic AI Builders: pelajar yang tak sekadar memakai AI, tetapi mampu merancang, memverifikasi, dan mempertanggungjawabkan dampaknya'" ujarnya.

Selain itu, menautkan inovasi dengan integritas ilmiah: “Kami memupuk evidence-based practice. Anak-anak tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menarasikan prosesnya secara jujur—termasuk peran AI—agar kejujuran akademik menjadi kebiasaan," ujarnya.

Sementara Dr. Lidia Sandra menekankan arah filosofis transformasi: “Di CH School, teknologi tunduk pada tujuan kemanusiaan: membentuk pelajar cerdas, beretika, dan berdaya cipta. Itulah jembatan antara ilmu dan nurani," ujarnya.

Pengalaman CH School sekaligus memotret tiga tantangan nasional. Pertama, infrastruktur yang belum merata: komputer, internet, dan pelatihan guru. CH mendorong riset on-device AI dan edge AI berbasis LLM ringan agar akses tidak bergantung koneksi stabil; subsidi perangkat (gawai/laptop) bagi wilayah kurang mampu menjadi opsi yang realistis. Kedua, kesiapan guru yang memerlukan intervensi sistemik: pelatihan berkelanjutan dan budaya belajar dijadikan indikator kinerja yang berdampak langsung pada promosi dan insentif. Tanpa mekanisme tersebut, transformasi mudah berhenti di wacana. Ketiga, paradigma literasi publik yang kerap menuntut “calistung tuntas dulu” sebelum coding dan AI. Merujuk gagasan Robot-Proof dari MIT, CH menegaskan human–tech–data literacy justru menguatkan kemampuan dasar melalui umpan balik personal, instruksi adaptif, serta interaksi suara dengan pendekatan Socratic, Montessori, hingga Ki Hajar Dewantara yang terintegrasi dalam AI.

Sebagai pengungkit talenta, CH School rutin menggelar lomba, ideathon, dan hackathon yang diikat pada pemecahan masalah nyata, disertai beasiswa hingga implementasi proyek. Sekolah juga mendorong rekognisi lintas disiplin oleh Pusat Prestasi Nasional agar karya yang memadukan sains, teknologi, seni, dan kewirausahaan tidak tersisih, melainkan terhubung dengan program beasiswa seperti Beasiswa Indonesia Maju dan LPDP. Dengan ekosistem yang menyatu dari kelas hingga komunitas, CH menunjukkan bahwa masa depan kebijakan kerap berawal dari praktik baik di akar rumput.

Kunjungan Wakil Menteri Dikdasmen dan Kepala BSKAP ke CH School bukan sekadar seremoni, melainkan validasi terbuka bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah yang berani bereksperimen, bertanggung jawab, dan transparan. Di hari ketika ruang-ruang kelas CH dipenuhi diskusi hangat antara siswa, guru, dan para pengambil kebijakan, satu pesan mengemuka: Indonesia tidak perlu menunggu untuk menjadi relevan di era kecerdasan buatan, kita dapat menciptakannya hari ini. Dengan semboyan Empowering Scholars to Build Better Communities, CH School menegaskan diri sebagai jembatan antara manusia dan mesin, antara masa lalu dan masa depan, serta antara pengetahuan dan nurani.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#atip latipulhayat