JawaPos.com — Hari ini menjadi momen bersejarah bagi pekerja migran Indonesia, setelah Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan dan PT Duta Prima Senyati melakukan pelepasan perdana pekerja migran Indonesia di sektor high skill.
"Para pekerja ini akan ditempatkan di Aerospace Industries Korea Selatan untuk mendukung industri pertahanan negara tersebut, " kata Menteri P2MI Mukhtarudin, Jumat (19/12).
Menurut Mukhtarudin, keberadaan pekerja Indonesia di sektor high skill dan industri pertahanan Korea Selatan merupakan prestasi yang luar biasa bagi anak-anak bangsa, sekaligus menjadi bukti kemajuan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan.
"Langkah ini bukanlah akhir dari upaya kolaborasi, melainkan awal bagi Indonesia untuk terus menerobos pasar kerja internasional di berbagai sektor pekerjaan high skill," ujarnya.
Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia mengapresiasi mendalam kepada pemerintah Korea Selatan dan PT Duta Prima Senyati yang telah menjalankan kerja sama dengan baik, mulai dari proses penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU), Perjanjian Kerjasama (PKS), hingga realisasi pelepasan pekerja.
"Ini merupakan pelepasan perdana di bidang Pertahanan. Sebanyak 12 pekerja telah melalui proses seleksi dan pelatihan yang matang. Mereka akan dipekerjakan di pembuatan Jet Tempur, " jelasnya.
Selain 12 CPMI tersebut, lanjut Mukhtarudin, calon pekerja lainnya masih dalam tahap proses seleksi dan akan diikuti secara berkelanjutan seiring dengan kebutuhan industri di Korea Selatan. "Ke depan, kerjasama akan diperluas ke sektor lain seperti perkapalan, mengingat Pertamina tengah melakukan pemesanan kapal tanker kepada pihak Korea Selatan. Pemerintah Indonesia akan mendorong agar sebagian pekerja yang terlibat dalam pembuatan kapal tersebut berasal dari Indonesia," ujarnya.
Masa kerja pekerja high skill di Korea Selatan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan, meskipun dalam perjanjian awal ditetapkan antara 2 hingga 3 tahun. Data menunjukkan bahwa jumlah pekerja high skill Indonesia di Korea Selatan mencapai ribuan orang, dengan peluang kerja yang terus terbuka karena kedua negara saling membutuhkan dan menguatkan sinergi.
"Proses seleksi dan pelatihan bagi 12 pekerja perdana ini berlangsung sekitar 5 bulan, mencakup pembekalan keterampilan teknis dan penguasaan bahasa Korea Selatan, " terangnya.
Saat ini, dari total kebutuhan sekitar 350 ribu pekerja skill di luar negeri, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20% nya. Oleh karena itu, peran pelatihan dan vokasi menjadi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut, agar peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Untuk pekerja high skill ini menggunakan visa E-7 yang dapat diperpanjang setiap 3 tahun. Kerjasama saat ini berjalan dengan skema Private to Private (P2P), dan penyesuaian skema di masa depan akan disesuaikan dengan kesepakatan dalam MOU yang berlaku. Visa E-7 sendiri merupakan kategori visa tertinggi untuk pekerja high skill di Korea Selatan, " tuturnya.
Proses Rekrutmen dan Perakitan Pesawat yang Super Ketat
Industri aerospasial Korea, khususnya Korea Aerospace Industry (KAI), merupakan salah satu sektor yang mengerjakan berbagai jenis kendaraan udara dan laut, tidak hanya pesawat jet tempur namun juga pesawat komersil kecil, pesawat latih, helikopter, serta kendaraan tanpa awak baik di udara maupun di laut. Kerja di bidang ini tidak bisa dianggap sepele, karena berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa orang ketika pesawat atau kendaraan lainnya digunakan.
Oleh karena itu, proses rekrutmen untuk pekerja yang akan terlibat dalam perakitan dan pengelolaan produk KAI dilakukan dengan seleksi yang sangat ketat.
"Tidak hanya kemampuan dan keahlian teknis yang menjadi fokus, melainkan juga aspek moral dan mental calon pekerja. Pekerjaan di industri ini sangat menuntut detail dan bisa memberikan tekanan tinggi, bahkan bisa dikatakan bahwa tidak boleh ada satu helai rambut pun yang jatuh pada mesin selama proses produksi, " kata Direktur PT. Prima Duta Sejati, Maxixe Mantofa.
Selain itu, lanjut Maxixe, pekerja harus memiliki ketahanan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai perubahan, mulai dari cuaca, budaya, hingga tantangan berbahasa. Kemampuan berbahasa Korea menjadi salah satu poin penting yang mendapat apresiasi dari pihak terkait, termasuk Menteri dan Dubes Korea di Indonesia.
"Hal ini karena komunikasi yang jelas mencegah terjadinya miskomunikasi, yang bisa berujung pada perselisihan dan masalah baru. Selain bahasa, pihak pengelola juga melakukan pemeriksaan menyeluruh mulai dari kondisi kesehatan mengikuti standar medis Korea yang sangat ketat, sampai latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan keterampilan yang diuji di balai latihan kerja di Pasuruan, " paparnya.
Setelah memenuhi syarat tahap awal, calon pekerja akan melalui wawancara secara daring melalui Zoom dan kemudian wawancara langsung ketika pihak Korea datang untuk memverifikasi keterampilan dan kedisiplinan. Disiplin menjadi poin yang tidak bisa dinegosiasikan; bahkan jika ada yang terlambat masuk kelas sekali saja, proses seleksi akan dihentikan.
"Standar yang diterapkan mengacu pada praktik internasional, bukan standar yang fleksibel seperti yang sering dikaitkan dengan kondisi di Indonesia, " kata Maxixe.
Perusahaan yang bekerja sama dengan KAI juga menempatkan pekerja di sektor lain seperti galangan kapal Hanwha Ocean Group, yang membuat berbagai jenis kapal mulai dari kapal selam, kapal perang, hingga kapal kontainer dan tanker.
"Saat ini sudah ada lebih dari 500-600 pekerja yang ditempatkan di sana. Konsep pelatihan pekerja diasosiasikan dengan persiapan tentara sebelum masuk medan perang, semua kemampuan harus dipersiapkan terlebih dahulu agar mereka bisa bekerja dengan baik dan aman, " ujarnya.
Dengan pelatihan yang baik, perlindungan terhadap pekerja akan menjadi lebih mudah, kecuali jika mereka sendiri melakukan tindakan yang tidak pantas atau kriminal yang berada di luar cakupan perlindungan.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi