Di sela-sela berkeliling kampus tertua di dunia itu, tiba-tiba ada mahasiswi yang lari memeluknya. ’’Dia lari memeluk saya, sambil menangis,’’ jelasnya dalam paparan program Baznas menyambut Ramadan 2026 di Jakarta. Saidah langsung menghampiri mahasiswa penerima beasiswa kuliah dari Baznas tersebut.
Seketika itu Saidah langsung berdiskusi dengan mahasiswi tersebut berasal dari Tangerang. ’’Bapaknya seorang pembuat peti kayu,’’ tuturnya. Sebagai seorang pembuat peti kayu, ayah dari mahasiswi tadi mendapatkan penghasilan sekitar Rp 300 ribu setiap pekan.
’’Ibunya mahasiswi tadi guru TK,’’ kata Saidah. Sang ibu membawa pulang gaji Rp 300 ribu setiap bulannya. Sehingga total penghasilan keluarga mahasiswi tadi sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan. Uang itu digunakan untuk menafkahi keluarga keluarga dengan tiga anak.
Sebelum berhasil menembus kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir, mahasiswi sulung dari tiga bersaudara itu tercatat sebagai santriwati. ’’Selama mondok jadi santri, anak ini pintar. Bahasa Arabnya bagus,’’ kenang Saidah. Sampai akhirnya anak tadi memberanikan diri mendaftar kuliah di Al Azhar, Kairo.
Kabar membahagiakan itu akhirnya datang. Mahasiswi tadi dinyatakan lolos seleksi masuk Al Azhar, Kairo. Tetapi setelah itu muncul masalah yang besar. Yaitu tidak punya biaya untuk berangkat menuju Mesir. Akhirnya dia melamar beasiswa Cendekia Baznas dan dinyatakan lulus.
’’Oleh orang-orang, impian anak tadi untuk bisa kuliah di Al Azhar, Kairo dianggap halu dan gila bisa kuliah di luar negeri,’’ jelas Saidah.
Dengan status penerima beasiswa Cendekia Baznas itu, dia mendapatkan uang untuk tiket pergi-pulang dari tanah air ke Mesir. Selain itu juga mendapatkan uang untuk living cost atau biaya hidup selama kuliah di Al Azhar, Kairo.
Saidah mengatakan kisah anak tukang kayu berhasil kuliah di Al Azhar, Kairo itu satu dari sekian banyak kisah manfaat dana zakat di sektor pendidikan. Menurut Saidah, masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga tidak punya akses untuk mengenyam pendidikan berkualitas.
’’Jika si anak tadi tidak dibukakan akses ke pendidikan berkualitas sampai tinggi, akan terus menjadi mata rantai kemiskinan,’’ tuturnya.
Menurut Saidah, sudah banyak cerita anak-anak peraih beasiswa pendidikan Baznas yang menjadi sukses. Sehingga bisa mengerek kondisi ekonomi keluarganya. Dari semula hidup di keluarga mustahik atau penerima dana zakat, menjadi muzakki atau pembayar zakat.
Saidah mengatakan Baznas sendiri mempunyai lembaga pendidikan berbasis pesantren di Bogor. Siswa yang diterima di sana, berasal dari keluarga miskin. Dengan sistem tersebut, dana zakat bisa digunakan untuk mengurangi beban pengeluaran dari keluarga miskin. Menurut dia masyarakat yang berada di desil 1 dan desil 2 harus dibantu pemenuhan hak dasarnya. Khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.
Saidah menceritakan di Indonesia saat ini masih ada 25,4 juta orang miskin. Dana zakat yang terkumpul di Baznas, tidak cukup untuk membantu seluruhnya. Sehingga mereka berfokus pada masyarakat yang masuk kategori desil 1 atau miskin ekstrem. Saidah menjelaskan saat ini ada sekitar 5 juta jiwa masyarakat Indonesia masuk kategori desil 1. Diantara kriteria masyarakat desil satu adalah penghasilannya tidak menentu, terkadang hanya Rp 800 ribu per bulan. ’’Yang dilakukan Baznas adalah mengurangi beban hidup mereka,’’ tuturnya.
Untuk kelompok masyarakat lain, Baznas memberikan bantuan untuk usaha. Sehingga diharapkan bisa hidup mandiri secara ekonomi. Jadi tidak semua penyaluran dana zakat menggunakan konsep memberi ikan. Tetapi juga ada yang menggunakan konsep memberikan kail. Seluruhnya disesuaikan dengan kondisi si penerima manfaat dana zakat.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi