Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Aksi Nyata Berbuah Besar Isu Ikan Sapu-sapu di Jakarta Jadi Sorotan

Azmy Muhammad Kiranova • Senin, 20 April 2026 | 13:39 WIB
Arief Kamarudin, seorang pemuda asal Jagakarsa yang mendokumentasikan upayanya membersihkan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. (Instagram)
Arief Kamarudin, seorang pemuda asal Jagakarsa yang mendokumentasikan upayanya membersihkan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. (Instagram)

JawaPos.com - Selama bertahun-tahun, keberadaan ikan sapu-sapu di sungai-sungai ibu kota sebenarnya bukan hal baru. Namun, isu ini baru benar-benar mencuat dalam beberapa waktu terakhir, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi lingkungan sungai di tengah padatnya aktivitas kota seperti Jakarta. Permasalahan yang sebelumnya cenderung luput dari perhatian kini mulai masuk ke ruang diskusi yang lebih luas.

Perhatian tersebut salah satunya dipicu oleh aksi Arief Kamarudin, seorang pemuda asal Jagakarsa yang mendokumentasikan upayanya membersihkan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. Melalui konten yang ia bagikan, publik mulai melihat secara langsung bagaimana kondisi sungai dan besarnya populasi ikan invasif tersebut.

Ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies dengan daya tahan tinggi, bahkan mampu hidup di perairan yang tercemar. Kemampuan ini membuat populasinya berkembang pesat dan mendominasi habitat sungai, termasuk di Sungai Ciliwung. Dalam jangka panjang, dominasi ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan menekan keberadaan ikan-ikan lokal.

Baca Juga: Tren Nongkrong After Office di GBK, Ini 5 Spot Recomended dengan View Kota dan Harga Terjangkau

Tidak hanya berdampak pada ekosistem, ikan sapu-sapu juga memiliki kebiasaan melubangi dinding tanah di bantaran sungai. Kondisi ini berpotensi melemahkan struktur tanggul dan meningkatkan risiko erosi, sehingga persoalan ini turut berkaitan dengan aspek keamanan lingkungan perkotaan.

Aksi yang dilakukan di lapangan untuk mengendalikan populasi ikan ini bukanlah hal yang ringan. Kondisi sungai yang berlumpur, dipenuhi sampah, hingga benda berbahaya seperti pecahan kaca dan paku menjadikan proses pengangkatan ikan sapu-sapu sebagai aktivitas yang cukup berisiko. Hal ini memperlihatkan bahwa penanganan isu lingkungan membutuhkan upaya nyata yang tidak sederhana.

Di sisi lain, meningkatnya eksposur terhadap isu ini mendorong lahirnya kesadaran baru di masyarakat. Apa yang sebelumnya hanya menjadi pembahasan terbatas kini mulai dipahami sebagai persoalan bersama yang membutuhkan perhatian lebih luas, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga warga.

Baca Juga: Penyesuaian Jadwal KRL Bogor Imbas Penutupan Jalur, Ini Dampaknya bagi Pengguna

Dampak dari meningkatnya perhatian publik ini mulai terlihat. Pada pertengahan April 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu di lima wilayah kota. Langkah ini menjadi salah satu bentuk respons terhadap isu yang kini semakin mendapat sorotan.

Selain itu, diskusi juga berkembang ke arah pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Salah satu opsi yang mulai dibahas adalah pengolahannya menjadi bahan pakan maggot, sehingga populasi berlebih dapat dimanfaatkan secara lebih produktif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa satu pemicu dapat membuka ruang kesadaran yang lebih luas. Peran individu seperti Arief menjadi salah satu titik awal, namun isu yang diangkat berkembang menjadi perhatian kolektif yang lebih besar.

 

Ke depan, meningkatnya kesadaran ini diharapkan tidak berhenti sebagai perhatian sesaat. Permasalahan spesies invasif seperti ikan sapu-sapu membutuhkan keterlibatan berkelanjutan dari berbagai pihak, agar ekosistem sungai di kota metropolitan dapat tetap terjaga dalam jangka panjang.

Editor : Bintang Pradewo
#jakarta #ikan sapu-sapu #arief kamarudin