Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Tim Verifikator Adiwiyata Cek SMPN 12 Jakarta, Memastikan Sekolah Benar-benar Berbudaya Lingkungan

Yogi Wahyu Priyono • Senin, 4 Mei 2026 | 14:16 WIB
Tim Verifikator Adiwiyata melakukan penilaian program sekolah peduli dan berbudaya lingkungan di SMPN 12 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Istimewa)
Tim Verifikator Adiwiyata melakukan penilaian program sekolah peduli dan berbudaya lingkungan di SMPN 12 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Istimewa)

JawaPos.com - Tim Verifikator Adiwiyata melakukan penilaian program sekolah peduli dan berbudaya lingkungan di SMPN 12 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi sekolah untuk menunjukkan berbagai program unggulan berbasis lingkungan yang telah dijalankan secara aktif oleh para siswa bersama warga sekolah.
 
"Sebagai kepala sekolah, saya sangat bangga melihat apa yang telah kami bangun bersama. Program Adiwiyata bukan sekadar kegiatan biasa bagi SMP 12 Jakarta, melainkan salah satu pilar utama pendidikan kami. Harapan besar kami sederhana namun mendalam: agar setiap lulusan dari sekolah ini tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki wawasan lingkungan yang luas dan kesadaran yang tinggi, " kata Kepala Sekolah SMPN 12 Jakarta, Setiawan, Senin (4/5). 

Pasalnya, isu lingkungan kini bukan lagi masalah lokal, melainkan tantangan yang dihadapi seluruh dunia. Kerusakan lingkungan yang terus terjadi mulai dari pencemaran udara, pencemaran air, hingga kerusakan tanah menuntut perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak, termasuk generasi muda.

Baca Juga: Danau Melody Gading Serpong Kembali Dibuka Jadi Ruang Publik Bernuansa Alam, Ini Jam Operasional dan Cara Masuknya

"Kami percaya, jika anak-anak sejak dini diajarkan untuk memahami dan menyikapi masalah ini dengan baik, mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang bertanggung jawab dan mampu menjaga kelestarian alam di masa depan, " ujarnya.
 
"Kehadiran tim verifikasi hari ini menjadi momen penting untuk menilai sejauh mana usaha kami berjalan lancar. Semoga dengan semua persiapan dan usaha yang telah dilakukan, SMP 12 Jakarta dapat dinobatkan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi. Lebih dari itu, harapan kami jauh lebih besar: suatu saat nanti sekolah ini dapat menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri, yang tidak hanya mampu mengelola lingkungannya sendiri dengan baik, tetapi juga menjadi contoh dan pembimbing bagi sekolah-sekolah lain yang ingin menapak jalan yang sama, " imbuhnya. 
 
Setiawan menilai, Program Adiwiyata bukan sekadar tentang fasilitas atau penampilan fisik sekolah. Program ini telah menyatu ke dalam inti pendidikan yang kami jalankan, terintegrasi ke dalam tiga jalur pembelajaran utama: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
 
Dalam pembelajaran intrakurikuler, isu-isu lingkungan sudah masuk ke dalam rencana pengajaran setiap guru. Setiap materi pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga nilai-nilai pelestarian lingkungan tersampaikan secara alami di dalam kelas. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak berpikir kritis mengenai masalah lingkungan dan cara mengatasinya.

Baca Juga: Anyer hingga Pulau Merak, 5 Pantai Ini Bisa Dijangkau dengan KRL untuk Jadi Destinasi Short Escape

"Sementara itu, dalam jalur kokurikuler, pendekatan yang kami gunakan lebih berfokus pada pembentukan karakter. Kami mengemas berbagai kegiatan menarik dengan tema lingkungan, seperti pembuatan kain batik dengan teknik eco print, pembuatan sabun dari minyak bekas, hingga pemanfaatan barang bekas menjadi barang yang bernilai guna, " ujarnya. 

Tak kalah penting, nilai-nilai Adiwiyata juga terasa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), anak-anak sering mengadakan berbagai acara seperti pameran lingkungan, sarasehan, atau kampanye kesadaran lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah. Dengan begitu, semangat peduli lingkungan tidak hanya terasa di dalam kelas, tetapi juga tumbuh di setiap aspek kehidupan siswa di sekolah.

"Alhamdulillah, ketiga jalur pembelajaran ini sudah berjalan dengan baik di SMP 12 Jakarta. Sekarang, tugas kami hanyalah terus meningkatkan kualitas dan kuantitas dari setiap kegiatan yang ada, agar dampaknya semakin terasa dan bermanfaat, " kata Setiawan.
 
Sebenarnya, lanjut Setiawan, usaha dalam membangun Program Adiwiyata ini bukanlah hal yang baru. Sudah sekitar dua tahun terakhir, pihaknya mulai merintis dan mengembangkan potensi yang ada di sekolah. Langkah demi langkah pihaknya melakukan, mulai dari membudidayakan ikan di kolam sekolah, mengembangkan tanaman obat keluarga, hingga memanfaatkan sampah organik melalui pembudidayaan magot.

"Semoga semua usaha dan kerja keras warga sekolah ini mendapat hasil yang memuaskan, dan SMP 12 Jakarta dapat terus menjadi tempat yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati dan karakter siswa yang cinta dan peduli pada lingkungan, " harapnya. 

Memastikan Sekolah Benar-benar Berbudaya Lingkungan 

Baca Juga: Pantai, Benteng, dan Sunset: Long Weekend di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu
 
Kegiatan penilaian dan verifikasi sekolah yang berkomitmen terhadap pelestarian lingkungan telah berlangsung rutin setiap tahun, dan tahun ini kembali diselenggarakan Adiwiyata tingkat kota. Di SMP 12, suasana tampak sibuk namun tertib saat tim verifikasi melakukan pengecekan langsung ke berbagai sudut sekolah. Proses ini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan langkah penting untuk memastikan kesesuaian antara data yang diserahkan dengan kenyataan yang ada di lapangan.
 
Segalanya dimulai dari tahap pemberkasan, di mana sekolah-sekolah peserta menyerahkan seluruh dokumen yang mencatat berbagai kegiatan dan usaha yang telah mereka lakukan untuk menjaga lingkungan. Setelah nilai dari penilaian dokumen keluar, tahap selanjutnya adalah verifikasi lapangan seperti yang sedang berlangsung saat ini. Tim penilai turun langsung ke lokasi untuk melihat dengan mata kepala sendiri apakah apa yang tertulis di berkas benar-benar diterapkan sehari-hari di sekolah.

Tim verifikasi sekaligus Staf PSM Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Sri Purwanti mengatakan penilaian yang dilakukan mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan perilaku berbudaya lingkungan hidup. Mulai dari cara pengelolaan sampah yang rapi dan teratur, upaya penghematan penggunaan listrik dan energi di seluruh bangunan sekolah, hingga kondisi kantin yang wajib menyajikan makanan olahan sehat.

"Di kantin, tidak diperbolehkan menjual makanan yang mengandung bahan pengawet atau pewarna buatan berlebih, demi menjaga kesehatan seluruh warga sekolah, " ucap Sri Purwanti. 
 
Selain itu, tim verifikasi juga terdiri dari perwakilan dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk dari bagian pertamanan dan KPKP. Mereka memiliki tugas khusus untuk memeriksa kondisi tanaman di lingkungan sekolah. Mulai dari tanaman obat keluarga (TOGA) yang ditanam di halaman hingga berbagai jenis tanaman hias dan pohon peneduh. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai apakah lingkungan sekolah terasa rindang, hijau, dan sejuk, yang tentunya akan membuat suasana belajar menjadi lebih nyaman.
 
"Tujuan utama dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah menciptakan sekolah yang bersih, asri, dan sehat. Namun yang paling penting, kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan baik kepada seluruh warga sekolah, terutama para siswa. Diharapkan, melalui berbagai kegiatan lingkungan yang dilakukan di sekolah, para siswa tumbuh menjadi pribadi yang peduli, sadar, dan selalu berusaha menjaga kelestarian lingkungan di mana pun mereka berada, " jelasnya. 
 
Sri Purwanti menyebut, untuk wilayah Jakarta Selatan tahun ini, terdapat 26 sekolah yang ikut serta dalam kegiatan ini. Dalam proses verifikasi lapangan, dilakukan sistem uji petik artinya tidak seluruh sekolah diperiksa, melainkan dipilih sejumlah sampel yang mewakili.

"Kali ini, sebanyak 6 sekolah menjadi sasaran verifikasi lapangan. Salah satunya adalah SMPN 12 Jakarta yang baru saja diperiksa oleh tim pertama. Besok, tim akan melanjutkan tugasnya ke dua lokasi lain," terangnya. 
 
Sri Purwanti menjelaskan untuk pemilihan sekolah yang diperiksa dilakukan dengan mempertimbangkan nilai hasil penilaian berkas. Baik sekolah yang memperoleh nilai tertinggi maupun yang nilainya masih tergolong rendah akan dikunjungi. Untuk sekolah dengan nilai tinggi, pengecekan dilakukan untuk memastikan bahwa prestasi yang tercatat di dokumen memang sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Bagi sekolah yang nilainya masih rendah, kunjungan ini bertujuan untuk melihat kondisi aslinya apakah sebenarnya sekolah tersebut memiliki potensi besar namun belum tercatat dengan baik di berkas, atau memang masih memerlukan dukungan dan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungannya, " tutupnya.

Editor : Bintang Pradewo
#adiwiyata #smpn 12 jakarta