JawaPos.com - Naik MRT Jakarta biasanya identik dengan perjalanan cepat, nyaman, dan bebas macet. Namun sekarang, ada aktivitas seru yang bisa membuat perjalananmu terasa seperti petualangan kecil di tengah kota. Bukan berburu kuliner atau mencari spot foto estetik, melainkan mengumpulkan stempel unik yang tersedia di sejumlah stasiun MRT Jakarta.
Buat kamu yang suka journaling, mengoleksi memorabilia perjalanan, atau sekadar mencari alasan untuk menjelajahi sudut-sudut Jakarta, program Stempel MRT Jakarta ini bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Bahkan, banyak pengguna transportasi publik yang mengibaratkan kegiatan ini seperti berburu "eki stamp" di Jepang, yaitu tradisi mengumpulkan cap khas dari setiap stasiun kereta yang dikunjungi.
Program ini pertama kali diperkenalkan MRT Jakarta pada Agustus 2024 sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih interaktif bagi pelanggan. Tidak hanya menjadi koleksi menarik, setiap stempel juga membawa cerita tentang budaya dan karakter kawasan di sekitar stasiun.
Stempel MRT Jakarta sendiri adalah cap khusus yang bisa dikoleksi oleh para penumpang. Setiap desain dibuat dengan corak budaya lokal dan ikon yang memiliki keterkaitan dengan kawasan tempat stasiun berada. Program ini dihadirkan sebagai sarana edukasi sekaligus cara baru menikmati perjalanan menggunakan transportasi publik.
Saat ini, stempel tersedia di 4 stasiun MRT Jakarta yang memiliki hubungan erat dengan budaya Betawi, yakni Stasiun Blok A, Stasiun Haji Nawi, Stasiun Cipete Raya TUKU, dan Stasiun Dukuh Atas. Masing-masing memiliki desain berbeda dengan cerita serta filosofi tersendiri, sehingga membuat aktivitas berburu stempel semakin seru sekaligus menambah wawasan tentang identitas dan karakter setiap kawasan yang dilintasi MRT Jakarta.
Di Stasiun Haji Nawi, misalnya, stempel mengangkat motif gigi balang yang identik dengan budaya Betawi. Motif tersebut dipadukan dengan gambar Ratangga, nama kereta MRT Jakarta, sebagai simbol keterhubungan dan kekuatan transportasi publik dalam kehidupan perkotaan.
Sementara itu, Stasiun Cipete Raya TUKU menghadirkan ilustrasi petai yang menjadi inspirasi nama kawasan Cipete. Desainnya diperkaya dengan unsur kembang sepatu dan motif Betawi tumpal yang menggambarkan keberagaman budaya yang tumbuh dan berkembang di Jakarta.
Berbeda lagi dengan Stasiun Blok A yang menggunakan elemen anyaman bambu. Desain ini melambangkan keterhubungan, fleksibilitas, serta kemampuan beradaptasi di tengah perkembangan kota metropolitan yang terus bergerak maju.
Tak kalah menarik, Stasiun Dukuh Atas menghadirkan empat desain stempel yang berbeda dan dapat dikoleksi secara terpisah. Setiap desain merepresentasikan peran penting kawasan Dukuh Atas sebagai pusat mobilitas perkotaan, mulai dari stempel Transport Hub dipadukan dengan motif batik rasamala, stempel Ratangga, stempel Integrasi, hingga stempel #PastiTertibBersama.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu membayar biaya tambahan untuk mendapatkan stempel ini. Caranya juga sangat mudah dan bisa dilakukan siapa saja yang berkunjung ke stasiun.
Pertama, datanglah ke salah satu stasiun yang menyediakan stempel. Setelah itu, arahkan langkahmu ke area loket atau customer service yang ada di stasiun tersebut. Di sana biasanya terdapat informasi mengenai layanan stempel yang bisa diminta oleh pelanggan.
Selanjutnya, cukup minta stempel kepada petugas stasiun. Kamu bisa membawa buku catatan pribadi, travel journal, scrapbook, atau kertas sendiri untuk dibubuhi cap. Jika tidak membawa apapun, pihak MRT juga menyediakan lembaran khusus yang bisa digunakan untuk mengoleksi stempel.
Setelah stempel berhasil didapatkan, jangan lupa mengabadikannya. Banyak pengguna MRT yang membagikan hasil koleksi mereka di media sosial karena desainnya yang unik dan estetik. Tak sedikit pula yang menjadikan aktivitas ini sebagai tantangan untuk mengunjungi seluruh stasiun yang memiliki stempel.
Di tengah tren staycation, city walk, dan wisata dalam kota, berburu stempel MRT bisa menjadi alternatif kegiatan yang murah meriah tetapi tetap menyenangkan. Kamu tidak perlu keluar kota untuk merasakan sensasi eksplorasi. Cukup siapkan kartu transportasi, buku catatan, dan semangat menjelajah.
Editor : Bintang Pradewo