JawaPos.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas mempercepat penanganan darurat pasca erupsi Gunung Semeru untuk mereduksi ancaman banjir lahar dan limpasan material vulkanik yang berpotensi mengancam permukiman warga.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian adalah kunci dalam respons bencana. “Kami memastikan peralatan dari balai-balai teknis siap digerakkan kapan pun diperlukan, termasuk membuka akses dan membantu proses evakuasi,” ujar Menteri Dody.
Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilakukan di lapangan. Tim lapangan menurunkan empat unit excavator, dua wheel loader, dan satu bulldozer untuk pekerjaan normalisasi alur sungai di bagian hulu dan hilir.
Di bagian hulu, fokus utama adalah membuka jalur aliran baru untuk mengurangi tekanan material dari arah gunung. Pembuatan sodetan direncanakan dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi tanggul 8 meter sepanjang 500 meter. “Hingga hari ini sekitar 200 meter sodetan dari arah hulu telah berhasil dibuka,” katanya.
Selain itu, di hulu dilakukan peninggian tangkis sepanjang sekitar 100 meter yang sudah selesai dikerjakan untuk memperkuat perlindungan alur sungai. Menurut Mohammad Noor, tindakan ini bertujuan mengarahkan aliran material vulkanik ke jalur yang lebih aman dan menekan potensi limpasan ke area rawan.
Sementara itu, penanganan di bagian hilir difokuskan pada perlindungan permukiman. “Penutupan alur sungai dekat permukiman telah 100 persen selesai, dengan pembangunan tanggul setinggi 4 meter sepanjang 500 meter,” terang Muhammad Noor.
Peninggian tanggul existing, pembangunan tanggul baru, serta pembukaan alur alternatif terus dilakukan agar aliran tidak mengarah ke permukiman dan risiko banjir terkendali.
Dia menambahkan, seluruh kegiatan di lapangan dipantau dan dievaluasi secara berkala agar penanganan darurat berjalan cepat, efektif, dan adaptif terhadap perkembangan kondisi alam. “Prioritas kami adalah keselamatan masyarakat. Penanganan hulu dan hilir berjalan paralel agar aliran sungai terkendali dan tidak menimbulkan dampak lanjutan,” pungkasnya.
Sebagai dukungan tambahan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali menurunkan dua unit excavator untuk membantu pembersihan di sepanjang Jembatan Besuk Kobokan. Kementerian PU juga menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait sampai masa pemulihan berjalan optimal. (als/wir)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi