JawaPos.com - Terputusnya Jembatan Subarang membuat warga mengarungi sungai untuk mengantar anak sekolah. Melihat itu Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pun bersikeras membangun jembatan bailey sembari membangun jembatan permanen.
Selama lebih dari satu minggu warga Desa Subarang Batuang, Kota Payakumbuh, Sumbar, harus keluar-masuk sungai untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Melewati bebatuan dengan air sungai selutut, mereka meniti batang pohon kelapa yang roboh untuk menyeberang. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo berinisiatif membuat jembatan bailey sembari terus membangun jembatan permanen.
Warga setempat, Desmawatrina, 39, menuturkan bahwa jembatan Subarang ini akses penting yang menghubungkan Desa Tobo dengan Subarang Batuang. Sekaligus menghubungkan Bukittinggi-Sicincin "Jembatan putus pada 27 November 2025 lalu saat terjadi galodo (banjir bandang, Red)," paparnya.
Sejak itu warga harus mengantar anak sekolah dengan keluar-masuk sungai. "Saya antar anak melewati sungai dengan air selutut. Kadang ada batang pohon kelapa roboh yang menjadi pijakan," ujarnya.
Jembatan putus ini juga membuat pasar tutup. Sebab tidak ada akses untuk mengirim barang-barang. "Kami hanya mengandalkan bantuan untuk makan," keluhnya.
Namun, begitu jembatan bailey terbangun, kondisi langsung berubah. "Kami bisa antar anak sekolah dengan mudah, pasar dan toko kembali berjualan," ujarnya. Karena itu, masyarakat sangat berterima kasih dengan pembangunan jembatan yang dilakukan Kementerian PU. "Masyarakat juga berharap agar ada irigasi, agar kami bisa bertani kembali," ujarnya.
Rabu (28/1) Menteri Dody meninjau langsung pembangunan jembatan penghubung Bukittinggi–Sicincin yang berada di Kecamatan Malalak, Sumatera Barat. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan pemulihan akses masyarakat pasca bencana.
“Waktu pertama kali saya ke sini, jembatan memang sudah putus. Awalnya hanya ada arahan untuk membangun jembatan permanen, tapi karena saya melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak, saya minta Kepala Balai segera membangun jembatan bailey sebagai solusi cepat,” ujar Dody. Saat ini satu jembatan Bailey telah selesai dibangun, sementara satu jembatan lainnya masih dalam proses penyelesaian.
Terkait pembangunan jembatan permanen, Dody menjelaskan bahwa prosesnya membutuhkan kajian teknis yang matang. Lokasi jembatan berada di area yang memiliki keterbatasan lahan serta berdekatan dengan kawasan cagar budaya. Selain itu, kondisi alam seperti potensi longsoran batu dari tebing sungai juga menjadi pertimbangan penting dalam desain.
“Semua masih kita desain dan kaji, apakah nanti bentuknya jembatan sekaligus sabo atau desain lain yang paling efektif dan aman, supaya ke depan kejadian seperti kemarin tidak terulang,” jelasnya.
Sambut Ramadan, Akses Harus Mudah
Menjelang bulan suci Ramadan, Menteri PU menegaskan bahwa pemerintah fokus memastikan kelancaran arus logistik dan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih dan sarana ibadah.
“Masyarakat sebenarnya tidak meminta jembatan bailey, saya yang mendorong karena melihat langsung warga menyeberang sungai dengan kondisi berbahaya. Ini tidak boleh terjadi. Apalagi menghadapi Ramadan, logistik dan kebutuhan air, khususnya di masjid-masjid, tidak boleh terganggu,” tegasnya.
Selain infrastruktur, Dody juga menekankan pelaksanaan program padat karya untuk menjaga perekonomian warga terdampak bencana. Sejak 12 Desember, Kementerian PU telah menginstruksikan agar program padat karya diterapkan di seluruh wilayah terdampak, termasuk Sumatera Barat.
“Masyarakat terdampak bencana tidak boleh ekonominya ikut terganggu. Dari PU, yang bisa kami lakukan adalah melibatkan masyarakat langsung dalam pekerjaan infrastruktur seperti saluran dan sistem air. Program ini sudah mulai berjalan sejak pertengahan Desember,” katanya.
Terkait sektor pertanian, Dody memastikan percepatan perbaikan jaringan irigasi. Ia menyebut, berdasarkan informasi dari Menteri Pertanian, endapan lumpur pascabencana justru dapat menjadi humus yang menyuburkan lahan.
“Di beberapa tempat, musim tanam sudah dimulai kembali. Di lokasi-lokasi itu, kami percepat pembenahan irigasi, baik irigasi pusat maupun daerah. Prinsipnya, di mana petani sudah mulai tanam, di situ irigasi langsung kita kerjakan,” ujarnya. (idr/oni)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi