JawaPos.com – Pimpinan DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya menyoroti berbagai persoalan sosial di masyarakat yang dinilai berpotensi menjadi tantangan serius bagi kondisi geopolitik Indonesia.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Edwin tersebut, sejumlah faktor yang menjadi tantangan geopolitik Indonesia antara lain perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan, perang, korupsi, narkoba, pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online (judol), hingga fenomena penyimpangan seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Ia menilai berbagai persoalan tersebut dapat menjadi ancaman serius karena berpotensi dipengaruhi kepentingan negara lain yang menginginkan ketidakstabilan di Indonesia.
“Apalagi Indonesia dianggap memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar, sehingga ingin dimanfaatkan oleh pihak asing,” ujarnya.
Kang Edwin menilai, selain isu ketahanan pangan, perang, korupsi, dan narkoba, fenomena maraknya pinjol ilegal serta judi online saat ini menjadi ancaman geopolitik yang cukup serius di masyarakat.
Menurutnya, penguasaan data dan ekonomi digital dalam praktik pinjol maupun judol bukan hanya dapat memengaruhi sistem keuangan suatu negara, tetapi juga berpotensi mengendalikan perilaku ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Daya Beli Warga Bandung Tertahan, DPRD Soroti Kesenjangan Sosial dan Dampak Efisiensi Anggaran
“Fenomena pinjol dan judol, terutama yang ilegal dan operatornya berada di luar negeri, menunjukkan bagaimana arus modal, teknologi, dan data lintas negara bisa menjadi alat kontrol ekonomi dan sosial terhadap bangsa lain. Dalam era geopolitik modern, data menjadi senjata baru yang berpotensi mengancam keamanan siber dan kedaulatan bangsa,” jelasnya.
Ia menambahkan, pinjaman online dan judi online memiliki keterkaitan kuat yang dapat memicu persoalan sosial baru. Banyak pelaku judi online yang kemudian terjerat pinjaman online untuk menutup kerugian.
“Mudahnya mendapatkan pinjaman serta rendahnya literasi keuangan masyarakat menimbulkan masalah ekonomi dan sosial baru bagi Indonesia,” tuturnya.
Selain itu, Kang Edwin juga menyinggung fenomena LGBT yang dinilai berpotensi menjadi ancaman terhadap sektor kesehatan masyarakat, terutama terkait potensi penyebaran penyakit menular seksual serta persoalan kesehatan mental.
Ia juga menilai isu tersebut berkaitan dengan perbedaan nilai budaya dan hukum antarnegara yang dapat memengaruhi hubungan diplomatik serta kebijakan luar negeri.
“Dalam geopolitik modern, kekuatan global tidak hanya soal perebutan wilayah dan sumber daya alam, tetapi juga perebutan pengaruh ideologi dan nilai,” katanya.
Ia bahkan menyinggung pernyataan mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang pada 2016 pernah menyebut fenomena LGBT sebagai bagian dari proxy war atau perang terselubung yang dilakukan pihak asing.
Baca Juga: Efisiensi PJLP, DPRD Bandung Ingatkan Jangan Timbulkan Pengangguran Baru
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung bersama Panitia Khusus (Pansus) 14 DPRD Kota Bandung saat ini tengah merumuskan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan, Pengendalian Perilaku dan Penyimpangan Seksual.
Menurut Kang Edwin, persoalan tersebut juga menjadi perhatian di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional karena dinilai memiliki implikasi terhadap kondisi sosial, budaya, serta ketahanan keluarga.
Ia menegaskan, upaya pencegahan berbagai persoalan sosial dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui pengawasan orang tua, pola pengasuhan yang baik, serta pendidikan karakter sejak dini.
Selain itu, kegiatan keagamaan dan organisasi kemasyarakatan juga dinilai memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sebagai benteng nilai moral dan etika.
Kang Edwin menambahkan, penguatan nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus terus diinternalisasikan di tengah masyarakat.
“Melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai kebangsaan tersebut, masyarakat diharapkan dapat terus bersatu dalam membangun Kota Bandung dan menjaga persatuan bangsa,” pungkasnya.
Editor : Edy Pramana