JawaPos.com – Pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri. Penunjukan tersebut dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Bank Indonesia (UU BI). Sementara itu, pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menunggu penetapan gubernur definitif dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo secara resmi. Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian Perry secara hormat.
"Presiden menerima pengunduran diri Bapak Perry Warjiyo disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama tujuh tahun memimpin Bank Indonesia," ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/7).
Sesuai UU BI, apabila jabatan gubernur kosong, tugas kepemimpinan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior.
"Deputi Gubernur Senior yang dimaksud adalah Ibu Destry Damayanti. Beliau akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara," katanya.
Destry menjelaskan penetapannya sebagai Pejabat Gubernur Sementara diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 26 Juli 2026, sehari setelah Perry menyampaikan pengunduran diri dengan alasan pribadi.
Menurut dia, pergantian kepemimpinan tidak akan mengganggu pelaksanaan tugas BI.
"Bank Indonesia tetap menjalankan seluruh mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Destry menambahkan proses penunjukan gubernur definitif mengikuti Pasal 40 dan Pasal 42 UU BI. Presiden akan mengusulkan calon kepada DPR untuk memperoleh persetujuan.
"Posisi saya saat ini sebagai Pejabat Gubernur Sementara sampai gubernur definitif ditetapkan sesuai mekanisme undang-undang," katanya.
Ia menegaskan seluruh keputusan strategis BI tetap diambil melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur sehingga kesinambungan kebijakan tetap terjaga.
Pelaku Pasar Masih Wait and See
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai pengunduran diri Perry berpotensi memicu tekanan psikologis di pasar keuangan dalam jangka pendek. Investor diperkirakan akan mencermati arah kebijakan bank sentral di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut Rahma, pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.600-Rp18.150 per dolar AS menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi BI. Kondisi tersebut berdampak terhadap harga barang impor, utang luar negeri, dan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, konflik global serta perang AS-Iran yang mengganggu jalur energi di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS.
Meski mendapat sorotan, Rahma menilai BI telah bekerja maksimal menghadapi tekanan eksternal.
"Permasalahan utamanya adalah external shock yang sulit dihindari serta kebijakan fiskal yang tidak selalu sejalan dengan target moneter BI," ujarnya.
Rahma memperkirakan pasar saham, nilai tukar rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN) masih bergerak volatil dalam jangka pendek.
"Pasar kemungkinan masih wait and see sambil melihat arah kebijakan moneter setelah pergantian pimpinan BI," katanya.
Menurut dia, penunjukan Destry memberi sinyal kesinambungan kebijakan karena berasal dari internal BI. Namun, investor tetap menunggu efektivitas langkah stabilisasi yang akan ditempuh untuk menjaga kredibilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.
Rahma menilai gubernur BI berikutnya menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari memperkuat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil, menjaga likuiditas perbankan, memastikan instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI tidak menghambat penyaluran kredit, hingga memperkuat implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna menjaga cadangan devisa.
"Independensi BI merupakan fondasi utama agar pasar percaya terhadap arah kebijakan makroekonomi Indonesia," tegasnya.
Investor Tunggu Gubernur Definitif
Ekonom Universitas Brawijaya Noval Adib menyebut pengunduran diri Perry cukup mengejutkan karena selama ini BI dinilai berhasil meredam tekanan terhadap rupiah melalui kebijakan moneter yang agresif.
"Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius pelaku pasar," ujarnya.
Menurut Noval, Perry bukan hanya pejabat, tetapi juga simbol kredibilitas BI. Karena itu, pasar akan mencermati siapa gubernur definitif yang ditunjuk pemerintah.
Penunjukan Destry dinilai mampu meredam kepanikan karena merupakan bagian dari tim Perry dan telah dikenal pelaku pasar. Namun, investor tetap menunggu sosok gubernur definitif.
"Jika mampu menjaga independensi BI, pasar akan merespons positif. Sebaliknya, bila dipersepsikan sebagai perpanjangan tangan pemerintah, respons pasar bisa negatif," katanya.
Noval menambahkan pergerakan IHSG yang masih sideways menunjukkan investor memilih menunggu kepastian arah kebijakan BI.
Anggota Komisi XI DPR Marwan Jafar mengatakan siapa pun gubernur BI yang terpilih harus mampu menjaga independensi bank sentral.
"Independensi BI bukan sekadar prinsip kelembagaan, melainkan syarat agar kebijakan moneter diambil secara objektif," ujarnya.
Menurut dia, proses pemilihan gubernur definitif harus mengedepankan profesionalisme, integritas, kompetensi, dan kepentingan nasional.
Publik Soroti Pengunduran Diri Perry
Pengunduran diri Perry juga menjadi sorotan publik karena tergolong langka dalam sejarah Bank Indonesia.
Akun X @abulmuzaffar10 menulis, sejak 1958 hanya dua gubernur BI yang mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir, yakni Boediono yang maju sebagai calon wakil presiden dan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dengan alasan pribadi.
Akun tersebut juga membandingkan Perry dengan gubernur BI pada masa krisis 1966 maupun krisis moneter 1997 yang tetap bertahan memimpin bank sentral.
Menurut unggahan itu, pergantian pimpinan BI di tengah kondisi ekonomi saat ini berpotensi memunculkan persepsi adanya intervensi terhadap independensi bank sentral yang dapat memengaruhi kepercayaan pasar.
Editor : Hendra