Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan Olahraga

Tak Hanya Nilai Tes Kemampuan Akademik, Sertifikat Juara Lomba di Bidang Seni Bisa Jadi Nilai Tambah Saat Pendaftaran Murid Baru 2026/2027

Zalzilatul Hikmia • Rabu, 21 Januari 2026 | 00:38 WIB

 

Kemendikdasmen resmi menerbitkan surat edaran yang mengintegrasikan nilai hasil tes kemampuan akademik (TKA) dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
Kemendikdasmen resmi menerbitkan surat edaran yang mengintegrasikan nilai hasil tes kemampuan akademik (TKA) dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menerbitkan surat edaran yang mengintegrasikan nilai hasil tes kemampuan akademik (TKA) dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Nantinya, nilai TKA dapat dimanfaatkan pada jalur prestasi akademik sebagai salah satu dasar seleksi penerimaan murid baru.

Ketentuan ini bertujuan menghadirkan mekanisme seleksi yang lebih objektif, terstandar, adil, serta mengurangi ketergantungan pada penilaian yang beragam antar satuan pendidikan. Surat edaran ini nantinya diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan satuan pendidikan dalam menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan SPMB secara tertib, transparan, dan akuntabel.

Selain nilai TKA, Pembina Tim Kerja Peserta Didik Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikdasmen, Minhajul Ngabidin mengatakan, jika capaian non akademik murid juga bisa digunakan sebagai nilai tambah dalam SPMB jalur prestasi. Misalnya, sertifikasi juara di bidang seni seperti menggambar dan mewarnai.

“Jadi seperti lomba Creative Family Award ini bisa didaftarkan ke Puspresnas (pusat prestasi nasional, red) untuk mendapat pengakuan ajang yang sudah dikurasi Kemendikdasmen. Sertifikatnya bisa untuk daftar SPMB,” tuturnya saat menyerahkan penghargaan pada para pemenang lomba Creative Family Award (CFA) -Art Alive Faber-Castell periode 2024/2025, di Jakarta, Selasa (20/1).

Minhajul pun menekankan, bahwa kesuksesan anak tidak semata ditentukan oleh nilai Matematika yang mencapai angka 8, 9 atau 10. Atau, nilai IPA dengan besaran yang sama, 8, 9, atau 10. Sebab, menurut dia, kemampuan anak-anak berbeda-beda. Oleh karenanya, para orang tua diminta tak khawatir saat anak-anaknya tidak menonjol di bidang akademik.

“Tidak usah khawatir, mungkin anak-anak ini punya potensi lain yang bisa dikembangkan. Seperti misalnya melalui bakat, minat di bidang seni, kepemimpinan, atau lainnya,” paparnya.

Selain itu, dia pun turut menyinggung soal adanya teori mengenai hal-hal yang bisa membawa seseorang sukses di masa depan. Ternyata, kemampuan akademik bukan yang utama. Kemampuan akademik hanya berkontribusi sekitar 20 persen.

“Apa 80 persennya? 80 persennya adalah bagaimana anak-anak mempunyai karakter, mempunyai keberanian, mempunyai jiwa kerja sama, di samping kemampuan akademik tadi ya,” jelasnya.

Karenanya, dia pun menyampaikan apresiasi kepada para pihak yang terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dalam mendukung peningkatan dan pengembangan soft skill serta karakter peserta didik ini. Termasuk, ajang Creative Family Award (CFA).

Sebagai informasi, CFA 2024/2025 telah digelar dengan tema Art Alive. Setelah melalui proses yang cukup panjang Faber-Castell pun mengumumkan 5 pemenang nasional dari lomba yang berhadiah utama berwisata ke Malaysia ini. Kelima anak tersebut berasal dari latar belakang sekolah dan kota yang berbeda-beda. Salah satunya, Hafiza Khaira Nuril Huda dari SDN Jember Kidul 04, Jember, Jawa Timur.

Dalam kesempatan yang sama, Richard Panelewen, Product Manager Faber-Castell International Indonesia, mengungkapkan, bahwa seni memiliki peran penting bagi pertumbuhan anak. Seni bisa menstimulasi kecerdasan anak. Dia mencontohkan, dalam seni menggambar doodle yang sejatinya bisa merangsang otak kanan anak.

“Jadi doodling itu bisa merangsang otak kanan bekerja. Selain itu, melatih anak untuk memecahkan masalah atau problem solving, mencari jalan keluar dari gambar yang dibuat ya,” paparnya. Tak hanya itu, dengan terus dilatihnya otak kanan maka akan turut berpengaruh pada kreativitas bahkan emosi anak. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#kemendikdasmen