JawaPos.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan, tidak ditemukan unsur malapraktik dalam penanganan medis terhadap Ratih Raynada, 30, warga Kecamatan Mustika Jaya, di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid (RSUD CAM). Pernyataan ini disampaikan Tri usai melakukan penelusuran mendalam bersama jajaran Pemerintah Kota Bekasi dan mengunjungi langsung kediaman Ratih.
Tri menyebut, sejak munculnya informasi yang berkembang di masyarakat, pihaknya langsung berkoordinasi dengan RSUD dan membentuk tim untuk melakukan audit medis secara menyeluruh. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan oleh tim dokter dari berbagai disiplin spesialisasi.
’’Ternyata ini memang sudah ditangani dari berbagai dokter spesialis. Mulai dari proses kehamilan, kelahiran, ada spesialis obgyn, spesialis anestesi, spesialis neurologi, spesialis paru dan spesialis bedah syaraf. Tentu kemudian diinvestigasi oleh satu tim dokter,’’ jelas Tri Jumat (4/7).
Kendati tidak ditemukan kesalahan prosedur, Tri memastikan, pemerintah tetap hadir untuk memberikan perhatian penuh terhadap kondisi Ratih dan keluarganya. Tri mengungkapkan, anak-anak Ratih diketahui sempat terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi yang dihadapi.
’’Pemerintah hadir bukan hanya untuk meluruskan informasi, tetapi untuk memberi solusi. Pendidikan anak-anak Ibu Ratih kami tanggung sampai selesai. Kami ingin memastikan tidak ada anak di Kota Bekasi yang putus sekolah karena kesulitan ekonomi atau musibah seperti ini,’’ tegasnya.
Selain dukungan di bidang pendidikan, Pemkot juga akan melakukan perbaikan tempat tinggal Ratih melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Kondisi rumah yang dihuni oleh tiga kepala keluarga dinilai tidak memenuhi standar kelayakan, sehingga akan segera direnovasi agar dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Di sisi lain, Direktur RSUD CAM, Kusnanto, turut memberikan penjelasan medis terkait kondisi Ratih. Dua menerangkan, Ratih datang ke rumah sakit dalam kondisi darurat, dengan usia kandungan 36 minggu, posisi janin letak lintang, dan ketuban yang telah pecah.
’’Pasien datang dengan kondisi darurat. Bayinya letak lintang dan air ketubannya sudah keluar-keluar. Fokus kami saat itu adalah menyelamatkan ibu dan bayinya,’’ ungkap Kusnanto.
Terkait keluhan kelumpuhan yang dialami Ratih beberapa waktu setelah melahirkan, Kusnanto memastikan, hal tersebut tidak terkait dengan tindakan medis yang dilakukan saat persalinan. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan lanjutan, Ratih diketahui menderita Tuberculosis (TBC) tulang yang menyerang area leher hingga panggul.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi