JawaPos.com – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) terus mematangkan rencana penyelenggaraan Festival Literasi Nasional 2026. Kamis (27/11), Kemenekraf menggelar diskusi awal bersama para pemangku kepentingan di Jakarta.
Kegiatan itu menjadi langkah pertama dalam menyusun festival literasi berskala nasional yang diharapkan mampu memperkuat budaya baca dan ekosistem literasi di Indonesia.
Diskusi tersebut menghadirkan penulis, penerbit, komunitas literasi, pelaku ekonomi kreatif, serta perwakilan lembaga pemerintah. Acara dibuka oleh Direktorat Penerbitan dan Fotografi Kemenekraf dan memuat sesi pemetaan isu literasi nasional, arah kebijakan, hingga pembahasan konsep program Festival Literasi Nasional 2026.
Direktur Penerbitan dan Fotografi Kemenekraf Imam Santoso menegaskan pentingnya sinergi seluruh elemen literasi. Mulai dari penyedia konten bacaan, pegawai literasi, lembaga pendidikan, dunia usaha, perpustakaan, hingga komunitas di tingkat pusat dan daerah. “Sinergi ini menjadi kunci yang harus terus diperkuat. Forum hari ini kita rancang sebagai ruang untuk gagasan dan memperkuat kerja kolaboratif,” ujarnya dalam sambutan.
Imam menjelaskan bahwa Festival Literasi Nasional 2026 disiapkan sebagai ruang apresiasi bagi para pegiat literasi dan seluruh elemen yang terlibat dalam ekosistem tersebut. Melalui diskusi ini, Kemenekraf ingin menjaring masukan terkait tema besar festival, isu-isu literasi yang perlu ditonjolkan, hingga bentuk program seperti bincang buku, workshop, dan eksibisi.
Dia menambahkan, festival ini tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan kegiatan literasi lain seperti Indonesia International Book Fair atau Book of The Writers Festival. Sebaliknya, Kemenekraf justru ingin mengisi ruang kosong dalam kalender kegiatan literasi nasional. “Kita tidak perlu bersaing, tapi memperkuat. Kita ingin mengisi ruang-ruang kosong yang belum tercakup, baik dari sisi waktu maupun segmen yang dilibatkan, termasuk pembaca, ilustrator, dan elemen lainnya,” kata Imam.
Festival juga diharapkan dapat mendukung program prioritas pemerintah, termasuk upaya meningkatkan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Imam menegaskan bahwa meski Kemenekraf baru terlibat dalam penguatan literasi, kolaborasi lintas lembaga tetap menjadi kunci. “Literasi diampu oleh banyak pihak, ada perpustakaan, kebudayaan, dan lainnya. Karena itu, kita perlu bergandengan tangan untuk membangun sebuah forum dan festival yang mengandung semua pihak,” ujarnya.
Festival Literasi Nasional 2026 diharapkan menjadi momentum untuk merangkum budaya literasi Indonesia secara lebih komprehensif. Kemenekraf menilai penguatan literasi adalah bagian penting dari pembangunan berkelanjutan sekaligus berkaitan erat dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. (lyn/oni)
Editor : Arief Indra Dwisetyadi